{"id":21724,"date":"2025-01-07T12:13:08","date_gmt":"2025-01-07T05:13:08","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/?p=21724"},"modified":"2025-01-08T09:19:37","modified_gmt":"2025-01-08T02:19:37","slug":"sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia","title":{"rendered":"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png\" alt=\"Demokrasi Liberal\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Indonesia pernah mengalami era Demokrasi Liberal ketika diperintah oleh Presiden Sukarno. Seperti apa latar belakang, penerapan, jalannya pemerintahan, dan akhir dari Demokrasi Liberal? Yuk simak penjelasan lengkapnya di <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/c\/sejarah\/sejarah-sma-kelas-12\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Artikel Sejarah Kelas XII <\/a><\/strong>ini!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu punya ketua kelas? Atau mungkin ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di sekolah kamu? Nah, coba kamu ingat-ingat, kenapa sih mereka bisa dipilih jadi ketua kelas atau ketua OSIS? <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo kamu tanya temen-temen kamu pasti beda-beda alasan milihnya. Ada yang milih karena menurutnya orangnya baik, ada yang memilih karena orangnya pinter. Atau mungkin ada yang memilih karena dia rajin traktir, hehe. Tapi dari sini kita bisa liat bahwa masing-masing orang atau siswa memiliki alasannya tersendiri dalam memilih pemimpin dan itu mustahil untuk bisa diseragamkan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira kayak gitu kondisi politik dan pemerintahan Indonesia tahun 1950-an. <\/span><strong>Periode ini sering disebut dengan Demokrasi Liberal atau Demokrasi Parlementer<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebagai negara yang baru merdeka, pemerintah Indonesia langsung mengimplementasikan demokrasi dalam politik negara. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Banyak partai-partai politik yang dibentuk dan berdiri<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk menyampaikan aspirasi dan keinginan masyarakat pemilihnya. Tapi nih, ada sebagian yang beranggapan kalo kondisi kayak gini tuh ga bagus buat sebuah negara baru, karena jika langsung diimplementasikan akan ada konflik terus menerus dan negara akan sulit melakukan pembangunan ekonomi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hmm\u2026 Apa itu Demokrasi Liberal? Dan gimana sejarahnya? <\/span><em>Let\u2019s check this out<\/em>!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Pengertian Demokrasi Liberal<\/b><\/span><\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bbdbeb66-be59-4af3-8ed0-65d77ac7d098.png\" alt=\"Pengertian Demokrasi Liberal\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum lebih jauh, kita harus tau dulu nih pengertiannya. Jadi, <\/span><strong>Demokrasi Liberal adalah<\/strong> sistem politik yang menekankan pada <strong>pembagian kekuasaan<\/strong> serta <strong>keterlibatan aktif masyarakat<\/strong> dalam pembentukan pemerintahan<b>.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Pembagian kekuasaan dan keterlibatan masyarakat ini dapat disalurkan lewat<\/span><strong> partai politik<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri-ciri dari negara dan pemerintahan dengan konsep Demokrasi Liberal adalah sistem kepartaiannya. <\/span><strong>Sistem kepartaian yang dianut pada masa demokrasi liberal adalah sistem multipartai<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><em>multi-party<\/em><span style=\"font-weight: 400;\">). <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sistem multipartai sendiri adalah sistem politik yang menjamin kebebasan bagi masyarakat untuk membentuk partai politik<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Lawan dari multipartai adalah sistem satu partai (<\/span><em>one-party system<\/em><span style=\"font-weight: 400;\">). Kalo kita lihat nih dari sejarahnya, partai politik di Indonesia pada tahun 1950-an itu ada banyak banget. Ada sekitar 56 partai politik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri-ciri lain dari demokrasi liberal adalah sistem pemerintahannya. Sistem pemerintahan itu umumnya ada dua, yaitu sistem pemerintahan <\/span><strong>presidensial<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">dan sistem pemerintahan <\/span><strong>parlementer<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, pada masa <\/span><strong>demokrasi liberal bangsa indonesia menganut sistem pemerintahan parlementer<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Emang bedanya apa sih? <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo sistem presidensial, jabatan presiden berkedudukan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Di satu sisi, dalam sistem parlementer presiden berkedudukan sebagai <\/span><strong>kepala negara<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> aja, sedangkan kedudukan <\/span><strong>kepala pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem demokrasi liberal diterapkan di Indonesia dalam kurun waktu 1945 sampai dengan 1959. Indonesia menganut sistem demokrasi liberal setelah dikeluarkannya <\/span><strong>Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Maklumat Pemerintah itu menegaskan posisi pemerintah Indonesia yang mendorong adanya kebebasan berpolitik bagi masyarakatnya. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, karena sejak proklamasi kemerdekaan terjadi Revolusi Indonesia, maka sistem ini baru benar-benar berjalan sejak Indonesia kembali ke negara kesatuan pada 1950. <\/span><strong>Berakhirnya sistem demokrasi liberal ditandai dengan<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">peristiwa dikeluarkannya <\/span><strong>Dekrit Presiden 5 Juli 1959<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> oleh Presiden Sukarno. Sejak saat itu pemerintahan dan politik Indonesia menerapkan konsep Demokrasi Terpimpin.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi\u2026 Gimana sih latar belakang demokrasi liberal ini?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/sejarah-kelas-12-kehidupan-indonesia-di-masa-demokrasi-terpimpin\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kehidupan Indonesia di Masa Demokrasi Terpimpin | Sejarah Kelas 12<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Latar Belakang Demokrasi Liberal<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah proklamasi dibacakan, tokoh-tokoh yang jadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan) membentuk <\/span><strong>KNIP<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">atau Komite Nasional Indonesia Pusat <\/span><strong>sebagai lembaga sementara<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menjalankan fungsi pemerintahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam salah satu rapat KNIP, Presiden Sukarno mengusulkan buat jadiin Indonesia sebagai negara satu partai atau partai tunggal. Usulan ini terus dapet penolakan, terutama dari golongan muda. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sutan Sjahrir, yang pas itu jadi &#8216;<\/span>jagoan&#8217;<span style=\"font-weight: 400;\"> golongan muda, menganggap bahwa <\/span><strong>sistem partai tunggal adalah satu keputusan yang gak demokratis<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Akhirnya, Wakil Presiden Hatta mengeluarkan <\/span><strong>Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mengizinkan masyarakat umum membentuk partai politik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><em>Beuh<\/em>, pas berita soal maklumat itu tersebar, <\/span><strong>banyak golongan yang kemudian mendirikan partai politik<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk kumpulin aspirasi mereka. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya nih, <\/span><strong>golongan umat Islam<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">sebagian besar bergabung dalam partai bernama <\/span><strong>Partai Masyumi<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0dan <\/span><strong>golongan umat Kristiani<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> membentuk <\/span><strong>Partai Kristen Indonesia<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><strong>Parkindo<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Terus ada juga nih <\/span><strong>golongan nasionalis <\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">yang membangkitkan kembali<\/span><strong> PNI<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><strong>Partai Nasional Indonesia<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> yang udah lama banget <\/span><em>hiatus<\/em> <span style=\"font-weight: 400;\">atau ga aktif.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi <\/span><strong>kenapa ya sistem ini sepakat buat diterapin sama pemerintah saat itu<\/strong>?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain karena ada <\/span><strong>faktor internal<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti di atas, ada juga nih <\/span><strong>faktor eksternal<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai negara baru, <\/span><strong>Indonesia<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">perlu dan butuh banget nih <\/span><strong>dukungan dari negara-negara lain<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">untuk melaksanakan kemerdekaannya, terutama dukungan dari negara-negara barat seperti <\/span><strong>Amerika Serikat<\/strong>, <strong>Inggris<\/strong>, <strong>Prancis<\/strong>,<span style=\"font-weight: 400;\"> dan lain lain.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"> Salah satu cara yang dirasa ampuh adalah dengan menunjukkan bahwa Indonesia mampu untuk menjalankan sistem demokrasi liberal seperti halnya negara-negara barat. Dan bener aja, beberapa negara mulai simpati dan menaruh perhatian ke Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira, berhasil ga ya sistem ini diterapin di Indonesia yang baru merdeka?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Penerapan Demokrasi Liberal<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ditanya berhasil atau ga demokrasi liberal buat diterapin, jawabannya bisa relatif nih. Kelebihan dan kekurangan demokrasi liberal dapat dinilai tergantung pada sisi mana kita melihatnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sisi politik dalam negeri, kabinet pemerintahan berganti beberapa kali. Sejak Agustus 1950 sampai dengan Juli 1959, <\/span><strong>totalnya ada 7 kabinet pada masa demokrasi liberal<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Coba kita lihat daftarnya:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Natsir<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">(September 1950-Maret 1951)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Sukiman<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">(April 1951-Februari 1952)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Wilopo<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">(April 1952-Juni 1953)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Ali Sastroamidjojo I<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">(Agustus 1953-24 Juli 1955)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Burhanuddin Harahap<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> (Agustus 1955-Maret 1956)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Ali Sastroamidjojo II<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> (Maret 1956-Maret 1957)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><strong>Kabinet Juanda atau Karya<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> (April 1957-Juli 1959)<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kalo misalnya kita lihat masa jabatan dari kabinet itu, kebanyakan pada sebentar gitu ya waktunya. Beberapa bahkan ga sampe setahun. Kabinet yang paling lama menjabat adalah Kabinet Juanda yaitu selama 2 tahun 2 bulan. Jadi bisa dibilang <\/span><strong>kondisi pemerintahan Indonesia ga stabil<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">nih, temen temen. Kenapa ya?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa demokrasi liberal,<\/span><strong> keadaan pemerintah tidak stabil disebabkan karena konflik antarpartai politik dan golongan<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain itu, beberapa daerah di Indonesia juga <\/span><strong>melakukan perlawanan daerah yang terus terjadi<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Hal ini tuh ngaruh banget sama kondisi politik saat itu dan berkaitan dengan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/latar-belakang-dan-tujuan-pemberontakan-prri-permesta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Latar Belakang dan Tujuan Pemberontakan PRRI\/Permesta | Sejarah Kelas 12<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terus, pendeknya masa kekuasaan kabinet pada masa demokrasi liberal <\/span><strong>disebabkan<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">juga <\/span><strong>karena kebijakan pemerintah yang tidak sejalan dengan partai-partai di parlemen<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya nih, ketika terjadi konflik tentang tanah di Tanjung Morawa, Sumatra Utara, <\/span><strong>pemerintah Wilopo bersebrangan dengan sebagian besar anggota parlemen<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> terkait dengan konflik ini dan akhirnya Kabinet Wilopo pun<\/span><strong> jatuh<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><strong>bubar<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, meskipun kayaknya demokrasi liberal ini isinya ribut antarpartai,<\/span> kelebihan demokrasi liberal adalah terbukanya sarana demokrasi yang lebih luas bagi masyarakat<span style=\"font-weight: 400;\"> dibandingkan dengan masa kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa ini juga, <\/span><strong>Pemilihan Umum<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><strong>Pemilu<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">demokratis p<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ertama berhasil diadakan dengan sukses<\/span><strong> pada tahun 1955<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">di <\/span><strong>masa Kabinet Burhanuddin Harahap<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/7c056965-ca75-49d0-976e-eeb0636f3a54.png\" alt=\"Partai Politik era Demokrasi Liberal\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Partai Peserta Pemilu tahun 1955 (Wikimedia Commons)<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, pada tahun <\/span><strong>1955<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span> <strong>Indonesia mengadakan pemilihan untuk memilih Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Fungsi <\/span><strong>DPR<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah untuk <\/span><strong>membentuk undang-undang<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, sedangkan <\/span><strong>Konstituante<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">merancang <\/span><strong>undang-undang dasar<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><strong>konstitusi<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pemilu ini bukan cuma jadi <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/sejarah-pemilu-1955\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pemilu pertama<\/a><\/strong> aja, tapi juga jadi bukti pada dunia bahwa <\/span><strong>Indonesia mampu menjalankan sistem demokrasi<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terus nih, dari sisi kebijakan luar negeri, kita bisa liat peristiwa yang bisa jadi paling keren yaitu <\/span><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/peran-bangsa-indonesia-dalam-perdamaian-dunia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>Konferensi Asia-Afrika di Bandung<\/strong><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0pada tahun <\/span><b>1955<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Indonesia pada saat itu menjadi tuan rumah bagi negara-negara baru merdeka dan bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dari kolonialisme. Konferensi internasional ini juga menjadi salah satu kelebihan dan prestasi Indonesia pada masa Demokrasi Liberal.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/kehidupan-ekonomi-bangsa-indonesia-di-masa-demokrasi-liberal\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kehidupan Ekonomi Indonesia di Masa Demokrasi Liberal | Sejarah Kelas 12<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 18pt;\"><b>Akhir dari Demokrasi Liberal<\/b><\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Konflik partai sepanjang tahun ini selain berpengaruh pada stabilitas politik, juga berdampak pada jalannya kebijakan pemerintah. <\/span><strong>Kabinet berganti<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, jadinya arah<\/span><strong> kebijakan juga berganti-ganti<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span> <strong>membuat penerapan kepada masyarakat juga terhambat<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, kabinet hasil Pemilu yaitu <\/span><strong>Kabinet Ali Sastroamidjojo II<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> juga masih belum bisa mengatasi masalah konflik antarpartai politik ini. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan banyak yang tidak sejalan dengan ideologi partai-partai yang ada di dalam kabinet.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat hal itu, Presiden Sukarno kemudian turun tangan dengan mengambil keputusan. <\/span><strong>Sukarno mengeluarkan Konsepsi Presiden pada Februari 1957<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> yang salah satunya berisi tentang pembentukan kabinet gotong royong yang terdiri dari berbagai partai politik di DPR. Hal ini yang kemudian disusul oleh bubarnya Kabinet Ali Sastroamidjojo II pada Maret 1957.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kabinet baru yang dibentuk sesuai dengan gambaran dan rencana Presiden Sukarno kemudian disebut nama <\/span><strong>Kabinet Karya<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">atau di kemudian hari lebih dikenal sebagai <\/span><strong>Kabinet Juanda<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun presiden udah turun tangan, konflik antarpartai tetap ga selesau, terutama pembahasan dasar negara di Konstituante. Akhirnya,<\/span><strong> Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"> yang <\/span><strong>membubarkan Konstituante<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">hasil Pemilu dan dimulainya<\/span><strong> masa demokrasi terpimpin<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengan demikian, kabinet terakhir pada masa demokrasi liberal adalah Kabinet Juanda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bentar bentar deh, emang apa sih perbedaan demokrasi liberal dan terpimpin? Bedanya, <\/span><strong>demokrasi liberal<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">itu <\/span><strong>menekankan pada peran aktif partai-partai politik<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">yang ada, sedangkan<\/span> <strong>demokrasi terpimpin<\/strong> <span style=\"font-weight: 400;\">penekankan pada <\/span><strong>arahan dan komando dari pemimpin nasional<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\">, dalam konteks ini Presiden Sukarno.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/5-bentuk-penyimpangan-demokrasi-terpimpin-terhadap-politik-luar-negeri\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Penyimpangan Demokrasi Terpimpin terhadap Politik Luar Negeri | Sejarah Kelas 9<\/a><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Intinya, sebagai sebuah negara yang baru merdeka, wajar jika saat itu Inodneisa masih beradaptasi dengan sistem pemerintahan untuk menentukan mana yang paling cocok dan terbaik. Yang pasti\u00a0<em>sih<\/em>, para pemimpin negara kita berusaha melakukan yang terbaik untuk negeri ini, meskipun ada\u00a0<em>trial and error<\/em>. Hehehe.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buat kamu yang mau belajar lebih dalam tentang Demokrasi Liberal, kamu boleh banget cek materinya di video <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/ruangbelajar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ruangbelajar<\/a><\/strong>. Di situ kamu akan belajar dengan Master Teacher yang keren, video pembelajaran yang interaktif, seru, dan adaptif. Yuk, unduh ruangbelajar sekarang!<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/play.google.com\/store\/apps\/details?id=com.ruangguru.livestudents&amp;hl=id\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/9f5e8203-8351-4264-80b6-212fb147e30e.jpg\" alt=\"CTA Ruangbelajar\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p>Poesponegoro, Marwanti Djoened &amp; Notosusanto, Nugroho (ed). (2019) Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka<\/p>\n<p>Ricklefs, M.C. (2022) Sejarah Indonesia Modern 1200\u20132008. Jakarta: Serambi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia pernah mengalami era Demokrasi Liberal ketika diperintah oleh Presiden Sukarno. Seperti apa latar belakang, penerapan, jalannya pemerintahan, dan akhir dari Demokrasi Liberal? Yuk simak penjelasan lengkapnya di Artikel Sejarah Kelas XII ini! &#8212; &nbsp; Kamu punya ketua kelas? Atau mungkin ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di sekolah kamu? Nah, coba kamu ingat-ingat, kenapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":309,"featured_media":21724,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_edit_lock":["1736302643:1"],"_edit_last":["1"],"_aioseo_title":["Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia"],"_aioseo_description":["Kalo denger istilah Pemilu, mungkin kamu udah tau ya. Nah, gimana kalo demokrasi liberal? Terus apa hubungan antara demokrasi liberal dan pemilu? Yuk cari tau!"],"_aioseo_keywords":[""],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":[""],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png"],"_knawatfibu_alt":["Demokrasi Liberal"]},"categories":[520,526],"tags":[76,10,259,37],"class_list":["post-21724","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sejarah","category-sejarah-sma-kelas-12","tag-kelas-12","tag-konsep-pelajaran","tag-sejarah-xii","tag-sma"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia pernah mengalami era Demokrasi Liberal ketika diperintah oleh Presiden Sukarno. Seperti apa latar belakang, penerapan, jalannya pemerintahan, dan akhir dari Demokrasi Liberal? Yuk simak penjelasan lengkapnya di Artikel Sejarah Kelas XII ini! &#8212; &nbsp; Kamu punya ketua kelas? Atau mungkin ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di sekolah kamu? Nah, coba kamu ingat-ingat, kenapa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-01-07T05:13:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-01-08T02:19:37+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"F. Lazuardi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"F. Lazuardi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\"},\"author\":{\"name\":\"F. Lazuardi\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/9f3a8ca7c89ec494fe53898f312ef4b4\"},\"headline\":\"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12\",\"datePublished\":\"2025-01-07T05:13:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-01-08T02:19:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\"},\"wordCount\":1518,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png\",\"keywords\":[\"Kelas 12\",\"Konsep Pelajaran\",\"Sejarah XII\",\"SMA\"],\"articleSection\":[\"Sejarah\",\"Sejarah SMA Kelas 12\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\",\"name\":\"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png\",\"datePublished\":\"2025-01-07T05:13:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-01-08T02:19:37+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/\",\"name\":\"Ruangguru Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\",\"name\":\"PT Ruang Raya Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png\",\"width\":173,\"height\":96,\"caption\":\"PT Ruang Raya Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\",\"https:\/\/x.com\/ruangguru\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/9f3a8ca7c89ec494fe53898f312ef4b4\",\"name\":\"F. Lazuardi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/65f53c5a0dc94b155806734ad901bbd1b115a3c99eccd38040643fce9b7a31d4?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/65f53c5a0dc94b155806734ad901bbd1b115a3c99eccd38040643fce9b7a31d4?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"F. Lazuardi\"},\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/author\/f-lazuardi\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","og_description":"Indonesia pernah mengalami era Demokrasi Liberal ketika diperintah oleh Presiden Sukarno. Seperti apa latar belakang, penerapan, jalannya pemerintahan, dan akhir dari Demokrasi Liberal? Yuk simak penjelasan lengkapnya di Artikel Sejarah Kelas XII ini! &#8212; &nbsp; Kamu punya ketua kelas? Atau mungkin ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) di sekolah kamu? Nah, coba kamu ingat-ingat, kenapa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia","og_site_name":"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","article_published_time":"2025-01-07T05:13:08+00:00","article_modified_time":"2025-01-08T02:19:37+00:00","author":"F. Lazuardi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ruangguru","twitter_site":"@ruangguru","twitter_misc":{"Written by":"F. Lazuardi","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia"},"author":{"name":"F. Lazuardi","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/9f3a8ca7c89ec494fe53898f312ef4b4"},"headline":"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12","datePublished":"2025-01-07T05:13:08+00:00","dateModified":"2025-01-08T02:19:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia"},"wordCount":1518,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png","keywords":["Kelas 12","Konsep Pelajaran","Sejarah XII","SMA"],"articleSection":["Sejarah","Sejarah SMA Kelas 12"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia","name":"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png","datePublished":"2025-01-07T05:13:08+00:00","dateModified":"2025-01-08T02:19:37+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/bb173cfb-9a59-459c-8ba3-63571092acf5.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/sistem-demokrasi-liberal-di-indonesia#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Sistem Demokrasi Liberal di Indonesia | Sejarah Kelas 12"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/","name":"Ruangguru Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization","name":"PT Ruang Raya Indonesia","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png","contentUrl":"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png","width":173,"height":96,"caption":"PT Ruang Raya Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","https:\/\/x.com\/ruangguru"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/9f3a8ca7c89ec494fe53898f312ef4b4","name":"F. Lazuardi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/65f53c5a0dc94b155806734ad901bbd1b115a3c99eccd38040643fce9b7a31d4?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/65f53c5a0dc94b155806734ad901bbd1b115a3c99eccd38040643fce9b7a31d4?s=96&d=mm&r=g","caption":"F. Lazuardi"},"url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/author\/f-lazuardi"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21724","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/309"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21724"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21724\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":21751,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21724\/revisions\/21751"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21724"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21724"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21724"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21724"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}