{"id":1468,"date":"2024-04-29T13:00:00","date_gmt":"2024-04-29T06:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=1468"},"modified":"2024-05-06T02:27:42","modified_gmt":"2024-05-05T19:27:42","slug":"contoh-teks-puisi-dan-jenisnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya","title":{"rendered":"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png\" alt=\"Contoh Puisi Berdasarkan Jenis-Jenisnya\" \/><\/em><\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 16px; font-weight: normal;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>Kamu suka baca puisi? Yuk, lihat beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/tag\/bahasa-indonesia-x\">artikel Bahasa Indonesia kelas 10<\/a><\/strong> berikut ini.<\/em><\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>&#8212;<\/em><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>\u201cAku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.\u201d<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Tahu nggak itu penggalan apa? <em>Yap<\/em>, bener banget. Itu adalah penggalan dari salah satu teks puisi paling terkenal karya Sapardi Djoko Damono.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Puisi memang memiliki kata-kata yang indah dan sering membuat para pembacanya <em>baper<\/em>. Puisi sebenarnya dapat kita temui dengan mudah sehari-hari. Bahkan, syair-syair lagu yang indah dan disusun dengan makna yang dalam termasuk ke dalam bentuk puisi, <em>lho<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Berpuisi bukanlah hal yang asing bagi kita. Dengan mendengar dan membaca sesuatu yang dipuisikan, suasana hati pun menjadi lebih damai. Tidak jarang, kalimat-kalimat dalam puisi kerap mewakilkan perasaan kita. Bener <em>nggak<\/em>?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Nah, kali ini kita akan melihat pengertian puisi secara lebih dekat beserta dengan contoh dan jenis-jenis puisi. Sudah siap? Yuk, simak berikut ini ya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Pengertian Puisi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Puisi adalah<\/span> <span style=\"font-weight: bold;\">teks atau karangan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan mengutamakan keindahan dari kata-kata<\/span>. Puisi dapat mengungkapkan berbagai perasaan, mulai dari kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada sang Pencipta yang diungkapkan dalam bahasa indah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak disukai karena disajikan dalam bahasa yang indah dan sifatnya yang imajinatif. Puisi kerap dianggap sebagai rangkaian kata-kata yang menggambarkan perasaan penulis atau penyairnya. Pesan yang ingin disampaikan oleh penyair ini dirangkai dengan kata-kata yang indah dan berbeda dengan bahasa sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Makna sangat penting bagi suatu karya puisi. Seindah apa pun rangkaian kata-kata yang dibuat, akan menjadi tidak berarti jika maknanya tidak tersampaikan. Maka dari itu, kamu perlu mengetahui beberapa jenis puisi agar dapat lebih memahami maksud dari suatu puisi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/pengertian-puisi-dan-unsur-pembentuk-puisi\" rel=\"noopener\">Pengertian Puisi, Jenis, Struktur, dan Unsur Pembentuknya<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Ciri-Ciri Puisi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, ketika kamu ingin membuat sebuah puisi, kamu perlu mengetahui beberapa ciri puisi berikut ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Menggunakan\u00a0 pilihan kata yang indah<\/li>\n<li>Penggunaan diksi memperhatikan rima dan sajak<\/li>\n<li>Terdiri atas bait dan baris<\/li>\n<li>Menggunakan majas yang bermakna kias<\/li>\n<li>Memiliki amanat yang dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca<\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/alvaro-serrano-contoh-puisi-pengertian-jenis-ciri.jpg\" alt=\"alvaro-serrano-contoh-puisi-pengertian-jenis-ciri\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Apakah kamu suka membuat atau membaca puisi? (Sumber: Unsplash.com)<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Jenis-Jenis Puisi<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi atau gagasannya, puisi dapat dibagi ke dalam beberapa jenis, yakni puisi naratif, puisi lirik, dan puisi deskriptif. Yuk, lihat penjelasannya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Puisi Naratif<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam dua macam, yaitu balada dan romansa.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4>a. Balada<\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Contohnya <em>Balada Orang-orang Tercinta<\/em> dan <em>Blues untuk Bonnie<\/em> karya WS Rendra.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4>b. Romansa<\/h4>\n<p>Jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan, yang diselingi perkelahian dan petualangan. Rendra juga banyak menulis romansa. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul \u201dRomance Perjalanan\u201d. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Puisi Lirik<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu elegi, ode, dan serenade.<\/span><\/p>\n<h4>a. Elegi<\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya <em>Elegi Jakarta<\/em> karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta.<\/span><\/p>\n<h4>b. Serenada<\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata &#8220;serenada&#8221; berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya &#8220;Serenada Hitam&#8221;, &#8220;Serenada Biru&#8221;, &#8220;Serenada Merah Jambu&#8221;, &#8220;Serenada Ungu&#8221;, &#8220;Serenada Kelabu&#8221;, dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa.<\/span><\/p>\n<h4>c. Ode<\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Puisi yang berisi pujian terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Ode banyak ditulis sebagai pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi contohnya <em>Teratai<\/em> (karya Sanusi Pane), <em>Diponegoro <\/em>(karya Chairil Anwar), dan <em>Ode buat Proklamator<\/em> (karya Leon Agusta).<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Puisi Deskriptif<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan\/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatiannya. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif, misaInya satire dan puisi yang bersifat kritik sosial.<\/span><\/p>\n<h4>a. Satire<\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Puisi yang mengungkapkan perasaan ketidakpuasan penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.<\/span><\/p>\n<h4>b. Kritik sosial<\/h4>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Puisi yang juga menyatakan ketidakpuasan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, tetapi dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan atau orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/struktur-teks-eksposisi-beserta-contohnya\" rel=\"noopener\">Pahami Pengertian Teks Eksposisi, Ciri, Struktur, Pola Pengembangan &amp; Contohnya<\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Bentuk-Bentuk Puisi<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Berdasarkan bentuknya, puisi dibedakan menjadi dua, yaitu:<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Puisi Lama<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><a style=\"font-weight: bold;\" href=\"\/blog\/mengenal-jenis-jenis-puisi-lama\" rel=\"noopener\">Puisi lama<\/a> adalah puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan, seperti persajakan, pengaturan larik dalam setiap bait, jumlah kata dalam setiap larik, dan musikalitas. Contohnya, pantun, syair, gurindam, karmina, mantra, seloka, dan talibun.<\/span><\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Puisi Baru<\/span><\/h3>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><a style=\"font-weight: bold;\" href=\"\/blog\/mengenal-jenis-jenis-dan-contoh-puisi-baru\" rel=\"noopener\">Puisi baru<\/a> adalah puisi yang tidak terikat oleh pengaturan dalam penciptaan puisi dan bentuknya lebih bebas. Contohnya, balada, elegi, himne, epigram, ode, romansa, dan satire.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Unsur-Unsur Pembangun Puisi<\/span><\/h2>\n<p>Terdapat dua unsur pembangun puisi, yaitu unsur fisik dan unsur batin. Lalu, apa perbedaannya, ya? Berikut penjelasan lengkapnya!<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Unsur Fisik<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #ffffff; color: #000000;\">Unsur fisik adalah unsur yang dapat langsung dikenali oleh pembaca karena terlihat pada bagian puisi. Unsur fisik puisi dibagi menjadi 4.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Majas:<\/strong> bahasa kias yang dipergunakan untuk menciptakan kesan tertentu bagi penyimak atau pembacanya.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Irama:<\/strong> alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang, yang berfungsi untuk memberi jiwa pada sebuah puisi<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Kata-kata konotasi:<\/strong> kata yang bermakna tidak sebenarnya dan telah mengalami penambahan-penambahan.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Kata-kata berlambang:<\/strong> sesuatu seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Unsur Batin<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"background-color: #ffffff; color: #000000;\">Unsur batin adalah unsur yang tersembunyi di balik unsur fisik. Untuk memahaminya, harus memahami isi puisi. Unsur batin juga dibagi menjadi 4.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"background-color: #ffffff; color: #000000;\"><strong>Tema:<\/strong> pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Amanat:<\/strong> pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Perasaan:<\/strong> puisi mengungkapkan perasaan dari penyair.<\/span><\/li>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000; background-color: #ffffff;\"><strong>Nada dan suasana:<\/strong> nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca, sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi akibat psikologis yang ditimbulkan puisi terhadap pembaca.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Nah, setelah kamu mengetahui tentang pengertian puisi, beserta ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangunnya, kita akan lanjut ke beberapa contoh puisi dari para penyair terkenal berikut ini. Yuk, perhatikan bersama-sama!<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"\/blog\/unsur-unsur-pembangun-puisi\" rel=\"noopener\">Unsur Ekstrinsik dan Intrinsik Pembangun Puisi, Apa Saja Ya?<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Balada<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Puisi Balada Orang-Orang Tercinta Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Balada Orang-Orang Tercinta<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>(oleh: WS Rendra)<\/em><\/span><\/p>\n<p>Kita bergantian menghirup asam<br \/>\nBatuk dan lemas terceruk<br \/>\nMarah dan terbaret-baret<br \/>\nCinta membuat kita bertahan<br \/>\ndengan secuil redup harapan<br \/>\nKita berjalan terseok-seok<br \/>\nMengira lelah akan hilang<br \/>\ndi ujung terowongan yang terang<br \/>\nNamun cinta tidak membawa kita<br \/>\nmemahami satu sama lain<br \/>\nKadang kita merasa beruntung<br \/>\nNamun harusnya kita merenung<br \/>\nAkankah kita sampai di altar<br \/>\nDengan berlari terpatah-patah<br \/>\nMengapa cinta tak mengajari kita<br \/>\nUntuk berhenti berpura-pura?<br \/>\nKita meleleh dan tergerus<br \/>\nSerut-serut sinar matahari<br \/>\nSementara kita sudah lupa<br \/>\nrasanya mengalir bersama kehidupan<br \/>\nMelupakan hal-hal kecil<br \/>\nyang dulu termaafkan<br \/>\nMengapa kita saling menyembunyikan<br \/>\nMengapa marah dengan keadaan?<br \/>\nMengapa lari ketika sesuatu<br \/>\nmembengkak jika dibiarkan?<br \/>\nKita percaya pada cinta<br \/>\nYang borok dan tak sederhana<br \/>\nKita tertangkap jatuh terperangkap<br \/>\nDalam balada orang-orang tercinta<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Puisi Tangis Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Tangis<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: WS Rendra)<\/em><\/p>\n<p>Ke mana larinya anak tercinta<br \/>\nyang diburu segenap penduduk kota?<br \/>\nPaman Doblang! Paman Doblang!<br \/>\nla lari membawa dosa<br \/>\ntangannya dilumuri cemar noda<br \/>\ntangisnya menyusupi belukar di rimba.<br \/>\nSejak semalam orang kota menembaki<br \/>\ndengan dendam tuntutan mati<br \/>\ndan ia lari membawa diri.<br \/>\nSeluruh subuh, seluruh pagi.<br \/>\nPaman Doblang! Paman Doblang!<br \/>\nKe mana larinya anak tercinta<br \/>\ndi padang lalang mana<br \/>\ndi bukit kapur mana<br \/>\nmengapa tak lari di riba bunda?<br \/>\nPaman Doblang! Paman Doblang!<br \/>\nPesankan padanya dengan angin kemarau<br \/>\nibunya yang tua menunggu di dangau<br \/>\nKalau lebar nganga lukanya<br \/>\nmulut bunda \u2018kan mengucupnya<br \/>\nKalau kotor warna jiwanya<br \/>\nIbu cuci di lubuk hati<br \/>\nCuma ibu yang bisa mengerti<br \/>\nIa membunuh tak dengan hati<br \/>\nKalau memang hauskan darah manusia<br \/>\nSuruhlah minum darah ibunya<br \/>\nPaman Doblang! Paman Doblang!<br \/>\nKatakan, ibunya selalu berdoa<br \/>\nKalau ia \u2018kan mati jauh di rimba<br \/>\nSuruh ingat marhum bapanya<br \/>\nYang di sorga, di imannya<br \/>\nDan di dangau ini ibunya menanti<br \/>\ndengan rambut putih dan debar hati<br \/>\nPaman Doblang! Paman Doblang!<br \/>\nKalau di rimba rembulan pudar duka<br \/>\nKatakan, itulah wajah ibunya<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/contoh-teks-persuasi\" rel=\"noopener\">Kumpulan Contoh Teks Persuasi Singkat dalam Berbagai Tema<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><strong><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Puisi Bendera Karya Taufiq Ismail<\/span><\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Bendera<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: Taufiq Ismail)<\/em><\/p>\n<p>Mereka yang berpakaian hitam<br \/>\nTelah berhenti di depan sebuah rumah<br \/>\nYang mengibarkan bendera duka<br \/>\nDan masuk dengan paksa<\/p>\n<p>Mereka yang berpakaian hitam<br \/>\nTelah menurunkan bendera itu<br \/>\nDi hadapan seorang ibu yang tua<br \/>\n\u201cTidak ada pahlawan meninggal dunia!\u201d<\/p>\n<p>Mereka yang berpakaian hitam<br \/>\nDengan hati yang kelam<br \/>\nTelah meninggalkan rumah itu<br \/>\nTergesa-gesa<\/p>\n<p>Kemudian ibu tua itu<br \/>\nPelahan menaikkan kembali<br \/>\nBendera yang duka<br \/>\nKe tiang yang duka<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Romansa<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Aku Ingin<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aku ingin mencintaimu dengan sederhana<br \/>\ndengan kata yang tak sempat diucapkan<br \/>\nkayu kepada api yang menjadikannya abu<br \/>\nAku ingin mencintaimu dengan sederhana<br \/>\ndengan isyarat yang tak sempat disampaikan<br \/>\nawan kepada hujan yang menjadikannya tiada<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Puisi Lagu Gadis Itali Karya Sitor Situmorang<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Lagu Gadis Itali<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: Sitor Situmorang)<\/em><\/p>\n<p>Kerling danau di pagi hari<br \/>\nLonceng gereja bukit Itali<br \/>\nJika musimmu tiba nanti<br \/>\nJemputlah abang di teluk Napoli<br \/>\nKerling danau di pagi hari<br \/>\nLonceng gereja bukit Itali<br \/>\nSedari abang lalu pergi<br \/>\nAdik rindu setiap hari<br \/>\nKerling danau di pagi hari<br \/>\nLonceng gereja bukit Itali<br \/>\nAndai abang tak kembali<br \/>\nAdik menunggu sampai mati<br \/>\nBatu tandus di kebun anggur<br \/>\nPasir teduh di bawah nyiur<br \/>\nAbang lenyap hatiku hancur<br \/>\nMengejar bayang di salju gugur<br \/>\n1955<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">6. Puisi Perkenalan Hati Karya Muamar<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Perkenalan Hati<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: Muamar)<\/em><\/p>\n<p>Saat sepinya hati terasa dalam hangat cahaya mentari di pagi hari,<br \/>\naku bertemu dirimu dengan suara laksana melodi simfoni.<br \/>\nAngan-angan sontak menghampiri,<br \/>\nwalaupun aku belum sepenuhnya mengerti siapakah dirimu, wahai bidadari.<br \/>\nSuaramu bagaikan melodi,<br \/>\nparasmu laksana sulaman pelangi,<br \/>\nsenyum dan tawamu bagaikan<br \/>\nsuara alam di pagi hari.<br \/>\nAku menahan diri agar tidak terperosok<br \/>\ndalam pedihnya luka hati,<br \/>\nkarena aku trauma dengan mereka yang hadir lalu pergi,<br \/>\ntanpa adanya kejelasan.<br \/>\nTerima kasih untukmu yang telah hadir dan memperkenalkan diri.<br \/>\nKusambut dirimu dengan hati,<br \/>\nwalaupun sedang mengalami depresi.<br \/>\nMaka bantulah aku yang sedang<br \/>\nmencoba memperbaiki.<br \/>\nKamu tak perlu khawatir,<br \/>\nwalaupun terkadang sikapku getir,<br \/>\nnamun sesungguhnya aku mencintaimu laksana obat<br \/>\nbagi hati yang sedang terkilir.<br \/>\nSekali lagi, terima kasih untukmu yang telah hadir.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Elegi<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">7. Puisi Elegi Jakarta Karya Asrul Sani<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Elegi Jakarta<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">(<em>oleh: Asrul Sani<\/em>)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tapal terakhir sampai ke Yogya,<br \/>\nbimbang telah datang pada nyala<br \/>\nlangit telah tergantung suram<br \/>\nKata-kata berantukan pada arti sendiri<br \/>\nBimbang telah datang pada nyala<br \/>\ndan cinta tanah air akan berupa<br \/>\npeluru dalam darah<br \/>\nserta nilai yang bertebaran sepanjang masa<br \/>\nbertanya akan kesudahan ujian<br \/>\nmati &#8211; atau tiada mati-matinya<br \/>\nO jenderal, bapa, bapa<br \/>\ntiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali<br \/>\nataukah suatu kehilangan keyakinan<br \/>\nhanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna<br \/>\ndan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara<br \/>\nakan hilang ditiup angin<br \/>\nia berdiam di pasir kering<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">8. Puisi Senja di Pelabuhan Kecil Karya Chairil Anwar<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Senja di Pelabuhan Kecil<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-weight: normal;\"><em>(oleh: Chairil Anwar)<\/em><\/p>\n<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta<br \/>\nDi antara gudang, rumah tua, pada cerita<br \/>\nTiang serta temali.<br \/>\nKapal, perahu tiada berlaut<br \/>\nMenghembus diri dalam mempercayai mau berpaut<br \/>\nGerimis mempercepat kelam<br \/>\nAda juga kelepak elang menyinggung muram<br \/>\nDesir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan<br \/>\nTidak bergerak dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.<br \/>\nTiada lagi. Aku sendiri.<br \/>\nBerjalan menyisir semenanjung<br \/>\nMasih pengap harap<br \/>\nSekali tiba di ujung<br \/>\nDan sekalian selamat jalan dari pantai keempat<br \/>\nSedu penghabisan bisa terdekap<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">9.\u00a0 Puisi Sia-Sia Karya Chairil Anwar<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Sia-Sia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: Chairil Anwar)<\/em><\/p>\n<p>Penghabisan kali itu kau datang<br \/>\nMembawa kembang berkarang<br \/>\nMawar merah dan melati putih<br \/>\nDarah dan suci<br \/>\nKau tebarkan depanku<br \/>\nSerta pandang yang memastikan: untukmu<br \/>\nLalu kita sama termangu<br \/>\nSaling bertanya: apakah ini?<br \/>\nCinta? Kita berdua tak mengerti<br \/>\nSehari kita bersama. Tak gampir-menghampiri.<br \/>\nAh! Hatiku yang tak mau memberi<br \/>\nMampus kau dikoyak-koyak sepi.<\/p>\n<p>Februari, 1943<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Serenada<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">10. Puisi Serenada Kelabu Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Serenada Kelabu<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>(oleh: WS Rendra)<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagai daun yang melayang.<br \/>\nBagai burung dalam angin.<br \/>\nBagai ikan dalam pusaran.<br \/>\nIngin kudengar beritamu!<br \/>\nKetika melewati kali<br \/>\nterbayang gelakmu.<br \/>\nKetika melewati rumputan<br \/>\nterbayang segala kenangan.<br \/>\nAwan lewat indah sekali.<br \/>\nAngin datang lembut sekali.<br \/>\nGambar-gambar di rumah penuh arti.<br \/>\nPintu pun kubuka lebar-lebar.<br \/>\nKetika aku duduk makan<br \/>\nkuingin benar bersama dirimu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/joanna-kosinska-pengertian-puisi-ciri-jenis-bentuk-contoh.jpg\" alt=\"joanna-kosinska-pengertian-puisi-ciri-jenis-bentuk-contoh\" width=\"600\" \/><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"color: #000000;\">Puisi termasuk karya sastra yang banyak disukai karena penggunaan bahasanya yang indah. (Sumber: Unsplash.com)<\/span><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">11. Puisi Serenada Biru Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Serenada Biru<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">(<em>oleh: WS Rendra<\/em>)<\/p>\n<p>I<br \/>\nAlang-alang dan rumputan<br \/>\nbulan mabuk di atasnya.<br \/>\nAlang-alang dan rumputan<br \/>\nangin membawa bau rambutnya.<\/p>\n<p>II<br \/>\nMega putih<br \/>\nselalu berubah rupa.<br \/>\nMembayangkan rupa<br \/>\nyang datang derita.<\/p>\n<p>III<br \/>\nKetika hujan datang<br \/>\nmalamnya sudah tua:<br \/>\nangin sangat garang<br \/>\ndinginnya tak terkira.<\/p>\n<p>Aku bangkit dari tidurku<br \/>\ndan menatap langit kelabu.<\/p>\n<p>Wahai, janganlah angin itu<br \/>\nmenyingkap selimut kekasihku!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/contoh-teks-berita\" rel=\"noopener\">Kumpulan Contoh Teks Berita Singkat dalam Berbagai Tema<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">12. Puisi Serenada Hijau Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Serenada Hijau<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">(<em>oleh: WS Rendra<\/em>)<\/p>\n<p>Kupacu kudaku.<br \/>\nKupacu kudaku menujumu.<br \/>\nBila bulan menegurkan salam dan syahdu malam,<br \/>\nbergantung di dahan-dahan.<br \/>\nMenyusuri kali kenangan<br \/>\nyang berkata tentang rindu<br \/>\ndan terdengar keluhan dari batu yang terendam.<br \/>\nKupacu kudaku.<br \/>\nKupacu kudaku menujumu.<br \/>\nDan kubayangkan sedang kau tunggu daku.<br \/>\nsambil kau jalin rambutmu yang panjang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Ode<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">13. Puisi Ode Buar Proklamator Karya Leon Agusta<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Ode Buat Proklamator<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>(Oleh: Leon Agusta)<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bertahun setelah kepergiannya, kurindukan dia kembali<br \/>\nDengan gelombang semangat halilintar dilahirkannya sebuah negeri; dalam lumpur dan lumut, dengan api menyapu kelam menjadi untaian permata hijau di bentangan cahaya abadi; yang senantiasa membuatnya tak pernah berhenti bermimpi; menguak kabut mendung, menerjang benteng demi benteng membalikkan arah topan, menjelmakan impian demi impian<br \/>\nDengan seorang sahabatnya, mereka tanda tangani naskah itu!<br \/>\nMereka memancang tiang bendera, merobah nama pada peta, berjaga membacakan sejarah, mengganti bahasa pada buku. Lalu dia meniup terompet dengan selaksa nada kebangkitan sukma<br \/>\nKini kita ikut membubuhkan nama di atas bengkalainya;<br \/>\nmeruntuhkan sambil mencari, daftar mimpi membelit bulan<br \/>\nPerang saudara mengundang musnah, dendam tidur di hutan-hutan, di sawah terbuka yang sakti<br \/>\nKata berpasir di bibir pantai hitam<br \/>\ndan oh, lidahku yang terjepit, buih lenyap di laut bisu<br \/>\nderap suara yang gempita cuma bertahan atau menerkam<br \/>\nYa, walau tak mudah, kurindukan semangatnya menyanyi kembali<br \/>\nbersama gemuruh cinta yang membangunkan sejuta rajawali<br \/>\nTak mengelak dalam bercumbu, biar di ranjang bara membatu<br \/>\nTak berdalih pada kekasih, biar berbisa perih di rabu<br \/>\nBerlapis cemas menggunung sesal mutiara matanya tak pudar B<br \/>\nagi negeriku, bermimpi di bawah bayangan burung garuda<br \/>\n(1979)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">14. Puisi Diponegoro Karya Chairil Anwar<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Diponegoro<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: Chairil Anwar)<\/em><\/p>\n<p>Di masa pembangunan ini<br \/>\nTuan hidup kembali<br \/>\nDan bara kagum menjadi api<br \/>\nDi depan sekali tuan menanti<br \/>\nTak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.<br \/>\nPedang di kanan, keris di kiri<br \/>\nBerselempang semangat yang tak bisa mati.<\/p>\n<p>MAJU<br \/>\nIni barisan tak bergenderang-berpalu<br \/>\nKepercayaan tanda menyerbu<br \/>\nSekali berarti<br \/>\nSudah itu mati<\/p>\n<p>MAJU<br \/>\nBagimu Negeri<br \/>\nMenyediakan api<br \/>\nPunah di atas menghamba<br \/>\nBinasa di atas ditinda<br \/>\nSungguhpun dalam ajal baru tercapai<br \/>\nJika hidup harus merasai<\/p>\n<p>MAJU<br \/>\nSerbu.<br \/>\nSerang.<br \/>\nTerjang.<br \/>\nFebruari 1943<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/contoh-puisi\">Kumpulan Contoh Puisi Pendek Bermacam Tema dan Penuh Makna<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Satire<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">15. Puisi Negeriku Karya Gus Mus<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Negeriku<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><em>(oleh: Gus Mus)<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mana ada negri sesubur negeriku<br \/>\nSawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung<br \/>\nPrabot-prabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku<br \/>\nIkan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku<br \/>\nEmas dan perak, perhiasan mereka digali dari tambangku<br \/>\nAir bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku<br \/>\nMana ada negri sekaya negeriku<br \/>\nMajikan-majikan bangsaku memiliki buruh-buruh mancanegara<br \/>\nBrangkas-brangkas Bank ternama dimana-mana menyimpan harta-hartaku<br \/>\nNegriku menumbuhkan konglomera dan mengikis habis kaum melarat<br \/>\nRata -rata pemimpin negriku dan handai tolannya terkaya didunia<br \/>\nMana ada negri semakmur negeriku<br \/>\nPenganggur-penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiunan setiap bulan<br \/>\nRakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan<br \/>\nRampok-rampok di beri rekomendasi, dengan kop sakti instansi<br \/>\nMaling-maling di beri konsensi<br \/>\nTikus dan kucing dengan asik berkorupsi<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">16. Puisi Aku Bertanya Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Aku Bertanya<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh WS Rendra)<\/em><\/p>\n<p>Aku bertanya\u2026<br \/>\ntetapi pertanyaan-pertanyaanku<br \/>\nmembentur jidat penyair-penyair salon,<br \/>\nyang bersajak tentang anggur dan rembulan,<br \/>\nsementara ketidakadilan terjadi<br \/>\ndi sampingnya,<br \/>\ndan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,<br \/>\ntermangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Kritik Sosial<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">17. Puisi Di Negeri Amplop Karya Gus Mus<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Di Negeri Amplop<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000000;\">(<em>oleh: Gus Mus)<\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di negeri amplop<br \/>\nAladin menyembunyikan lampu wasiatnya, malu<br \/>\nSamson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi rapi-rapi<br \/>\nDavid Copperfield dan Houdini bersembunyi rendah diri<br \/>\nEntah andaikata Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya<br \/>\nAmplop-amplop di negeri amplop<br \/>\nmengatur dengan teratur<br \/>\nhal-hal yang tak teratur menjadi teratur<br \/>\nhal-hal yang teratur menjadi tak teratur<br \/>\nmemutuskan putusan yang tak putus<br \/>\nmembatalkan putusan yang sudah putus<br \/>\nAmplop-amplop menguasai penguasa<br \/>\ndan mengendalikan orang-orang biasa<br \/>\nAmplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan<br \/>\nmencairkan dan membekukan<br \/>\nmengganjal dan melicinkan<br \/>\nOrang bicara bisa bisu<br \/>\nOrang mendengar bisa tuli<br \/>\nOrang alim bisa napsu<br \/>\nOrang sakti bisa mati<br \/>\nDi negeri amplop<br \/>\namplop-amplop mengamplopi<br \/>\napa saja dan siapa saja<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">18. Puisi Aku Tulis Pamplet Ini Karya WS Rendra<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Aku Tulis Pamplet Ini<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: WS Rendra)<\/em><\/p>\n<p>Aku tulis pamplet ini<br \/>\nkarena lembaga pendapat umum<br \/>\nditutupi jaring labah-labah.<br \/>\nOrang-orang bicara dalam kasak-kusuk,<br \/>\ndan ungkapan diri ditekan<br \/>\nmenjadi peng &#8211; iya \u2013 an.<br \/>\nApa yang terpegang hari ini<br \/>\nbisa luput besok pagi.<br \/>\nKetidakpastian merajalela.<br \/>\nDi luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki<br \/>\nmenjadi marabahaya<br \/>\nmenjadi isi kebon binatang.<\/p>\n<p>Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,<br \/>\nmaka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.<br \/>\nLembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.<br \/>\nTidak mengandung perdebatan<br \/>\nDan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.<\/p>\n<p>Aku tulis pamplet ini<br \/>\nkarena pamplet bukan tabu bagi penyair.<br \/>\nAku inginkan merpati pos.<br \/>\nAku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku.<br \/>\nAku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.<\/p>\n<p>Aku tidak melihat alasan<br \/>\nkenapa harus diam tertekan dan termangu.<br \/>\nAku ingin secara wajar kita bertukar kabar.<br \/>\nDuduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.<\/p>\n<p>Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?<br \/>\nKekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.<br \/>\nKetegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.<\/p>\n<p>Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.<br \/>\nRembulan memberi mimpi pada dendam.<br \/>\nGelombang angin menyingkapkan keluh kesah<\/p>\n<p>yang teronggok bagai sampah.<br \/>\nKegamangan. Kecurigaan.<br \/>\nKetakutan.<br \/>\nKelesuan.<\/p>\n<p>Aku tulis pamplet ini<br \/>\nkarena kawan dan lawan adalah saudara.<br \/>\nDi dalam alam masih ada cahaya.<br \/>\nMatahari yang tenggelam diganti rembulan.<br \/>\nLalu besok pagi pasti terbit kembali.<br \/>\nDan di dalam air lumpur kehidupan,<br \/>\naku melihat bagai terkaca:<br \/>\nternyata kita, toh, manusia!<\/p>\n<p style=\"text-align: left; font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/mengenal-drama\" rel=\"noopener\">Mengenal Drama: Pengertian, Unsur, Struktur, Ciri-Ciri &amp; Contohnya<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Himne<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">19. Puisi Karena Kasihmu Karya Amir Hamzah<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Karena Kasihmu<\/span><br \/>\n<em>(oleh: Amir Hamzah)<\/em><\/p>\n<p>Karena kasihmu<br \/>\nEngkau tentukan waktu<br \/>\nSehari lima kali kita bertemu<\/p>\n<p>Aku anginkan rupamu<br \/>\nKulebihi sekali<br \/>\nSebelum cuaca menali sutera<\/p>\n<p>Berulang-ulang kuintai-intai<br \/>\nTerus menerus kurasa-rasakan<br \/>\nSampai sekarang tiada tercapai<br \/>\nHasrat sukma idaman badan<\/p>\n<p>Pujiku dikau laguan kawi<br \/>\nDatang turun dari datuku<br \/>\nDiujung lidah engkau letakkan<br \/>\nPiatu teruna di tengah gembala<\/p>\n<p>Sunyi sepi pitunang Poyang<br \/>\nTadak meretak dendang dambaku<br \/>\nLayang lagu tiada melangsing<br \/>\nHaram gemerencing genta rebana<\/p>\n<p>Hatiku, hatiku<br \/>\nHatiku sayang tiada bahagia<br \/>\nHatiku kecil berduka raya<br \/>\nHilang ia yang dilihatnya<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">20. Puisi Doa Karya Taufik Ismail<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Doa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-weight: normal;\"><em>(oleh: Taufik Ismail)<\/em><\/p>\n<p>Tuhan kami<br \/>\nTelah nista kami dalam dosa bersama<br \/>\nBertahun-tahun membangun kultus ini<br \/>\nDalam pikiran yang ganda<br \/>\nDan menutupi hati nurani<\/p>\n<p>Ampunilah kami<br \/>\nAmpunilah<br \/>\nAmin<\/p>\n<p>Tuhan kami<br \/>\nTelah terlalu mudah kami<br \/>\nMenggunakan AsmaMu<br \/>\nBertahun di negeri ini<br \/>\nSemoga Kau rela menerima kembali<br \/>\nKami dalam barisanMu<\/p>\n<p>Ampunilah kami<br \/>\nAmpunilah<br \/>\nAmin<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Puisi Epigram<\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">21. Puisi Perjalanan Usia Karya Candra Malik<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: bold;\">Perjalanan Usia<\/span><br \/>\n<em>(oleh: Candra Malik)<\/em><\/p>\n<p>Anak-anak tumbuh mendewasa,<br \/>\nakankah aku hanya tumbuh menua?<br \/>\nKelak mereka butuh lawan bicara,<br \/>\napakah kala itu aku kakek pelupa?<\/p>\n<p>Anak-anak tidak selamanya bayi,<br \/>\nmereka butuh tak hanya dimengerti.<br \/>\nMereka punya mata, punya hati,<br \/>\ntidak cukup dengan harta diwarisi.<\/p>\n<p>Sampai kapan usiaku ditakdirkan,<br \/>\nsampai batas itulah aku dihadirkan.<br \/>\nSebagai orang tua, sebagai teman,<br \/>\nsampai batas waktu yang ditentukan.<\/p>\n<p>Tak baik jika mereka di sini saja,<br \/>\nhangat dipeluk rumah dan keluarga.<br \/>\nKehidupan itu pengembaraan jiwa,<br \/>\ndan mereka pengelana berikutnya.<\/p>\n<p>Jika tumbuh dewasa ada ujungnya,<br \/>\njangan sampai hanya menua sia-sia.<br \/>\nDalam perjalananku menyusuri usia,<br \/>\nsetidaknya harus pernah bijaksana.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">22. Puisi Sajak Ajaran Hidup Karya Sapardi Djoko Damono<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Sajak Ajaran Hidup<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(oleh: Sapardi Djoko Damono)<\/em><\/p>\n<p>hidup telah mendidikmu dengan keras<br \/>\nagar bersikap sopan \u2014<br \/>\nmisalnya buru-buru melepaskan topi<br \/>\natau sejenak menundukkan kepala \u2014<br \/>\njika ada jenazah lewat<br \/>\nhidup juga telah mengajarmu merapikan<br \/>\nrambutmu yang sudah memutih,<br \/>\nmembetulkan letak kacamatamu,<br \/>\ndan menggumamkan beberapa lirik doa<br \/>\njika ada jenazah lewat<br \/>\nagar masih dianggap menghormati<br \/>\nlambang kekalahannya sendiri<\/p>\n<p style=\"font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/cara-membuat-puisi-yang-baik-dan-benar\" rel=\"noopener\">Bagaimana Cara Membuat Puisi yang Baik dan Benar?<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\">Nah, itulah beberapa kumpulan contoh puisi berdasarkan jenis-jenisnya. Seru banget kan pembahasan kali ini? Semoga, setelah memahami artikel ini, kamu jadi tahu apa itu puisi, ciri-ciri, jenis, hingga unsur pembangunnya, ya. Kalau kamu mau belajar tentang puisi dan melihat contoh-contohnya lebih banyak lagi dengan bantuan visual. Yuk, langsung buka <a href=\"https:\/\/ruangguru.onelink.me\/blPk\/eaff0eb9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>ruangbelajar<\/strong><\/a>!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/link.ruangguru.com\/blPk\/eaff0eb9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/0ec4a2df-db2e-4ae1-8473-692756dcb684.jpeg\" alt=\"IDN CTA Blog ruangbelajar Ruangguru\" width=\"822\" height=\"200\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><strong>Referensi:<\/strong><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Kosasih, E. 2017. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left; font-weight: bold;\"><span style=\"color: #000000;\">Sumber Gambar:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Foto &#8216;Fountain Pen on Stationery&#8217;. Fotografer: Alvaro Serrano [daring]. Tautan: https:\/\/unsplash.com\/photos\/hjwKMkehBco (diakses pada 27 September 2022)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"color: #000000;\">Foto &#8216;Brown Paper and Black Pen&#8217;. Fotografer: Joanna Kosinska [daring]. Tautan: https:\/\/unsplash.com\/photos\/B6yDtYs2IgY (diakses pada 27 September 2022)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><em><span style=\"color: #000000;\">Artikel ini diperbarui pada 29 April 2024.<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamu suka baca puisi? Yuk, lihat beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di artikel Bahasa Indonesia kelas 10 berikut ini. &#8212; &nbsp; \u201cAku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.\u201d Tahu nggak itu penggalan apa? Yap, bener banget. Itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":1468,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png"],"_edit_last":["1"],"_edit_lock":["1714937126:1"],"_aioseo_title":["22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenis-Jenisnya"],"_aioseo_description":["Kamu suka baca puisi? Berikut beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di artikel berikut ini."],"_aioseo_keywords":[""],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":[""],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_wp_old_date":["2022-09-27","2023-11-27"]},"categories":[477,484],"tags":[97,52,10,37],"class_list":["post-1468","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahasa-indonesia","category-bahasa-indonesia-sma-kelas-10","tag-bahasa-indonesia-x","tag-kelas-10","tag-konsep-pelajaran","tag-sma"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kamu suka baca puisi? Yuk, lihat beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di artikel Bahasa Indonesia kelas 10 berikut ini. &#8212; &nbsp; \u201cAku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.\u201d Tahu nggak itu penggalan apa? Yap, bener banget. Itu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-04-29T06:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-05-05T19:27:42+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Shabrina Alfari\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Shabrina Alfari\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"17 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\"},\"author\":{\"name\":\"Shabrina Alfari\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/af6350034b171a1408a571ed11ae0248\"},\"headline\":\"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10\",\"datePublished\":\"2024-04-29T06:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-05-05T19:27:42+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\"},\"wordCount\":3419,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png\",\"keywords\":[\"Bahasa Indonesia X\",\"Kelas 10\",\"Konsep Pelajaran\",\"SMA\"],\"articleSection\":[\"Bahasa Indonesia\",\"Bahasa Indonesia SMA Kelas 10\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\",\"name\":\"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png\",\"datePublished\":\"2024-04-29T06:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2024-05-05T19:27:42+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/\",\"name\":\"Ruangguru Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\",\"name\":\"PT Ruang Raya Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png\",\"width\":173,\"height\":96,\"caption\":\"PT Ruang Raya Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\",\"https:\/\/x.com\/ruangguru\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/af6350034b171a1408a571ed11ae0248\",\"name\":\"Shabrina Alfari\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79094fae9fdc0a70f38fea8e648da0d97a5c1e687461905420034bf6e4ed550f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79094fae9fdc0a70f38fea8e648da0d97a5c1e687461905420034bf6e4ed550f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Shabrina Alfari\"},\"description\":\"Content Writer and Content Performance at Ruangguru. Hope my writing finds you well and help you learn a thing or two! :D\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/author\/shabrina-alfari\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","og_description":"Kamu suka baca puisi? Yuk, lihat beberapa contoh puisi pendek, beserta pengertian, ciri-ciri, jenis, bentuk, dan unsur pembangun puisi di artikel Bahasa Indonesia kelas 10 berikut ini. &#8212; &nbsp; \u201cAku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.\u201d Tahu nggak itu penggalan apa? Yap, bener banget. Itu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya","og_site_name":"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","article_published_time":"2024-04-29T06:00:00+00:00","article_modified_time":"2024-05-05T19:27:42+00:00","author":"Shabrina Alfari","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ruangguru","twitter_site":"@ruangguru","twitter_misc":{"Written by":"Shabrina Alfari","Est. reading time":"17 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya"},"author":{"name":"Shabrina Alfari","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/af6350034b171a1408a571ed11ae0248"},"headline":"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10","datePublished":"2024-04-29T06:00:00+00:00","dateModified":"2024-05-05T19:27:42+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya"},"wordCount":3419,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png","keywords":["Bahasa Indonesia X","Kelas 10","Konsep Pelajaran","SMA"],"articleSection":["Bahasa Indonesia","Bahasa Indonesia SMA Kelas 10"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya","name":"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png","datePublished":"2024-04-29T06:00:00+00:00","dateModified":"2024-05-05T19:27:42+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png","contentUrl":"https:\/\/cdn-web-2.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/e42d0804-6e44-4bd3-a840-4b343e916b87.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/contoh-teks-puisi-dan-jenisnya#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"22 Contoh Puisi Pendek berdasarkan Jenisnya | Bahasa Indonesia Kelas 10"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/","name":"Ruangguru Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization","name":"PT Ruang Raya Indonesia","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png","contentUrl":"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png","width":173,"height":96,"caption":"PT Ruang Raya Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","https:\/\/x.com\/ruangguru"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/af6350034b171a1408a571ed11ae0248","name":"Shabrina Alfari","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79094fae9fdc0a70f38fea8e648da0d97a5c1e687461905420034bf6e4ed550f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/79094fae9fdc0a70f38fea8e648da0d97a5c1e687461905420034bf6e4ed550f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Shabrina Alfari"},"description":"Content Writer and Content Performance at Ruangguru. Hope my writing finds you well and help you learn a thing or two! :D","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/author\/shabrina-alfari"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1468","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1468"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1468\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17481,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1468\/revisions\/17481"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1468"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1468"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1468"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1468"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}