{"id":1027,"date":"2024-09-09T10:00:00","date_gmt":"2024-09-09T03:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/example.com\/?p=1027"},"modified":"2025-02-10T12:19:46","modified_gmt":"2025-02-10T05:19:46","slug":"apa-itu-cerpen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen","title":{"rendered":"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &#038; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 820px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg\" alt=\"Apa itu Cerpen\" width=\"820\" \/><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 16px;\"><em>Apa itu cerpen? Seperti apa contoh cerpen dan bagaimana cara menganalisisnya? Yuk, jawab rasa penasaranmu tentang cerpen dengan membaca <a style=\"font-weight: bold;\" href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/c\/bahasa-indonesia\/bahasa-indonesia-sma-kelas-11\" rel=\"noopener\">artikel Bahasa Indonesia kelas 11<\/a> ini!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center; font-size: 16px;\"><em>&#8212;<\/em><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika memasuki kelas 11 SMA semester 1, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kamu akan bertemu dengan topik-topik pelajaran yang sangat menyenangkan. Mengapa? Karena kamu akan banyak mengenal dan memahami lebih dalam materi tentang cerpen, <a style=\"font-weight: bold;\" href=\"\/blog\/cara-cepat-dan-mudah-membuat-pantun\" rel=\"noopener\">pantun<\/a>, dan juga cerita-cerita fiksi maupun nonfiksi lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apalagi bagi kamu yang gemar membaca, menulis, berimajinasi, dan memikirkan banyak hal. Tulisan seringkali menjadi media yang sangat cocok untuk mengungkapkan dan mengekspresikan perasaan serta pemikiran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, salah satu bentuk tulisan atau karya sastra yang akan kita bahas di sini adalah cerpen. Pasti kamu udah familiar kan dengan cerpen? Tapi, apakah kamu tahu bedanya cerpen dengan novel? Meskipun sama-sama cerita fiksi, cerpen dan novel memiliki perbedaan yang cukup signifikan, lho!<\/p>\n<p>Yuk, kita belajar materi cerpen bersama-sama, mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis, struktur, unsur pembentuk, hingga contohnya!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Pengertian Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Cerpen merupakan singkatan dari<\/span><span style=\"font-weight: bold;\"> cerita pendek<\/span>. Nah, cerita pendek atau <span style=\"font-weight: bold;\">cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi<\/span>. Maksudnya, <strong>isi cerpen bukanlah kejadian nyata<\/strong>, melainkan hanya karangan atau imajinasi penulisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapa saja bisa membuat cerita pendek. Termasuk kamu yang masih duduk di bangku sekolah. Kehidupan di sekolah tentunya sangat menarik, dong! Banyak kejadian-kejadian menarik yang bisa kamu ekspresikan ke dalam sebuah cerita pendek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah itu cerita tentang tingkah lucu temanmu semasa SMA, cerita tentang guru tegas dan guru jenaka yang selalu membuatmu ingat pada dirinya, atau bahkan cerita-cerita manis yang mungkin, ketika kamu malu mengekspresikannya, kamu bisa mewakilinya dengan menciptakan tokoh pada sebuah cerita pendek. Itu menarik banget!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun, kamu juga bisa\u00a0<em>lho\u00a0<\/em>membuat cerpen berdasarkan kondisi sosial di masyarakat pada kurun waktu tertentu. Supaya makin kebayang, kamu bisa membaca cerpen berjudul Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Apa Bedanya Cerpen dengan Novel?<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi kamu yang suka baca, pasti kamu bisa membedakan antara cerpen dan novel, ya. Yap! Meskipun keduanya merupakan cerita fiksi, tapi <strong>perbedaan cerpen dengan novel adalah dari jumlah kata-katanya<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerita di dalam cerpen cenderung lebih padat dan biasanya tidak memiliki banyak tokoh. Rata-rata, jumlah kata dalam cerpen, yaitu maksimal hanya sampai 10.000 kata saja. Yaa.. kalau orang-orang bilang, kita hanya butuh sekali duduk untuk menyelesaikan satu cerita pendek. Hmm, mungkin bisa dicoba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lain halnya dengan novel yang jauh lebih panjang. Jumlah kata pada novel bisa mencapai 35.000 kata, loh! Cerita pada novel juga punya alur dan plot yang lebih kompleks. Latar belakang para tokohnya pun dijelaskan sejelas mungkin.<\/p>\n<p><strong>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/menganalisis-unsur-unsur-novel\">Pengertian Novel, Ciri-Ciri, Unsur Pembentuk, Struktur, dan Contohnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Ciri-Ciri Cerpen<\/span><\/h2>\n<p>Berikut ciri-ciri cerpen secara umum yang bisa kamu ketahui:<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Ceritanya Fiktif<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen merupakan cerita fiktif (tidak nyata) yang dibuat berdasarkan imajinasi penulisnya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Jumlah Katanya Sedikit<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen umumnya hanya terdiri dari beberapa ribu kata atau beberapa halaman. Jumlah kata cerpen biasanya tidak lebih dari 10.000 kata.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Keterbatasan Tokoh\/karakter<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena panjangnya yang terbatas, cerpen tidak memiliki banyak tokoh atau karakter. Biasanya, cerpen terdiri dari karakter utama dan satu atau dua karakter pendukung saja.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Plot yang Singkat<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen memiliki plot yang singkat dan hanya fokus pada satu aspek cerita saja. Hal inilah yang membuat cerpen begitu disukai, karena alur ceritanya yang ringkas, jelas, dan nggak berbelit-belit.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Gaya Bahasa yang Padat<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen ditulis menggunakan gaya bahasa yang padat dan menggunakan kalimat efektif. Ini dilakukan untuk meminimalisir penggunaan jumlah kata agar tidak terlalu bertele-tele.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">6. Punya Kesan Mendalam<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun singkat, cerpen seringkali meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembaca. Alasannya karena cerpen punya gaya penulisan yang kuat, karakter yang menarik, dan tidak terlalu banyak konflik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/ciri-ciri%20cerpen.jpg\" alt=\"ciri-ciri cerpen\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Fungsi Cerpen<\/span><\/h2>\n<p>Cerpen juga punya fungsi, <em>lho<\/em>! Apa aja sih, fungsi cerpen? Coba perhatikan infografik berikut!<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"width: 600px; margin-left: auto; margin-right: auto; display: block;\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/5%20fungsi%20cerpen.jpg\" alt=\"5 fungsi cerpen\" width=\"600\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Fungsi Rekreatif<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen berfungsi untuk memberikan <span style=\"font-weight: bold;\">rasa senang, gembira, dan menghibur<\/span> bagi seluruh pembacanya.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Fungsi Estetis<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen memiliki fungsi untuk <span style=\"font-weight: bold;\">memberikan keindahan<\/span> bagi pembaca karya sastra.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Fungsi Moralitas<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen dapat <span style=\"font-weight: bold;\">memberikan nilai-nilai moral<\/span> kepada pembaca, sehingga mendapat pengetahuan tentang hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Fungsi Didaktif<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen dapat <span style=\"font-weight: bold;\">mengarahkan dan mendidik<\/span> para pembaca dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di dalam cerita.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px; text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Fungsi Relegiusitas<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen <span style=\"font-weight: bold;\">mengandung nilai-nilai yang terdapat pada ajaran agama<\/span> yang bisa dijadikan teladan bagi para pembacanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain kelima fungsi tersebut, cerpen juga memiliki fungsi-fungsi lainnya, tergantung dari maksud dan tujuan pengarang ketika menulis cerpen.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Unsur-Unsur Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam sebuah cerpen, terdapat unsur-unsur yang menyusunnya. Unsur cerpen terbagi menjadi dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Lalu, apa sih perbedaan keduanya? Kita simak penjelasannya berikut ini!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">a. Unsur Intrinsik Cerpen<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Unsur intrinsik cerpen adalah unsur yang membangun cerita dari dalam. Terdapat <strong>7 unsur intrinsik cerpen<\/strong>, yaitu <strong>tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa<\/strong>. Nah, untuk penjelasan lebih lengkapnya, kamu bisa baca di artikel ini: &#8220;<strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/unsur-unsur-intrinsik-cerita-pendek\">Apa Saja Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen?<\/a><\/strong>&#8220;.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">b. Unsur Ekstrinsik Cerpen<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, unsur ekstrinsik cerpen adalah unsur yang membentuk cerita dari luar. Terdapat <strong>3 unsur ekstrinsik cerpen<\/strong>, yaitu <strong>latar belakang masyarakat, latar belakang pengarang, dan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen<\/strong>. Kamu bisa membaca masing-masing unsurnya secara lengkap di artikel ini: &#8220;<strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/bahasa-indonesia-kelas-9-unsur-ekstrinsik-cerita-pendek\">Apa Saja Unsur-Unsur Ekstrinsik Cerpen?<\/a><\/strong>&#8220;.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Rehat sebentar yuk! Sebelum lanjut ke materi struktur cerpen, sudah tahu belum kalau di aplikasi Ruangguru sekarang ada fitur baru, yaitu AdaptoX. Kamu bisa belajar sambil bermain game interaktif seru sesuai dengan materi yang sedang kamu pelajari. Cobain, yuk!<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a class=\"rg-cta\" style=\"text-align: center;\" href=\"https:\/\/link.ruangguru.com\/blPk\/eaff0eb9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/cta\/c95ddccd-57ac-4bbe-af47-9fe20fe536ce.jpeg\" alt=\"IDN CTA Blog AdaptoX Ruangguru 2022\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Struktur Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya, struktur cerpen terdiri 6 bagian, yaitu abstrak, orientasi, rangkaian peristiwa, komplikasi, resolusi, dan koda. Nah, untuk penjelasan lebih lengkapnya, ada di bawah ini, ya!<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Abstrak<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Abstrak merupakan bagian cerpen yang <strong>menggambarkan keseluruhan isi cerita<\/strong>.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Orientasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orientasi cerpen berisi <strong>penentuan peristiwa<\/strong> yang menciptakan gambaran visual dari latar, atmosfer, dan waktu dari cerita. Di bagian ini, kamu juga akan menemukan pengenalan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Rangkaian Peristiwa<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu, pada bagian ini, kisah akan berlanjut melalui <strong>serangkaian peristiwa satu ke peristiwa lainnya yang tidak terduga<\/strong>.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Komplikasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian, cerita akan bergerak menuju <strong>konflik atau puncak masalah<\/strong>, pertentangan, atau kesulitan-kesulitan bagi para tokohnya yang memengaruhi latar waktu dan karakter.<\/p>\n<h3 style=\"font-size: 16px;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Resolusi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terakhir, pada bagian ini, akan menceritakan <strong>solusi dari masalah<\/strong> atau tantangan yang dicapai. Kamu juga akan mengetahui bagaimana cara pengarang mengakhiri cerita.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify; font-size: 16px;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">6. Koda<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Koda merupakan<\/span> <span style=\"font-weight: normal;\">komentar akhir terhadap keseluruhan isi cerita. Bagian ini juga bisa disebut <strong>simpulan cerpen<\/strong>.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Jenis-Jenis Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamu tahu nggak kalau cerpen itu ada jenis-jenisnya, loh! Nah, sebelum kamu membuat cerpen, ada baiknya untuk mengetahui jenis-jenis cerpen terlebih dahulu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">1. Cerpen Kilat atau Cerita Mini<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesuai namanya, cerpen kilat adalah <strong>cerpen yang isinya sangat pendek<\/strong>, yaitu hanya terdiri antara <strong>300 sampai 750 kata saja<\/strong>. Meskipun begitu, sebenarnya, nggak ada batasan pasti dalam jumlah kata tulisannya. Dinamai cerpen kilat, lebih karena waktu penulisannya yang terasa singkat dan nggak memakan waktu yang lama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">2. Cerpen Drabel<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen drabel adalah <strong>jenis cerpen yang super singkat<\/strong>, lebih singkat dari cerpen kilat, yaitu <strong>hanya terdiri dari 100 kata saja<\/strong>. Penulisan cerpen drabel bisa dibilang cukup sulit loh. Ini karena jumlah katanya yang sangat terbatas, dan penulis harus membuat cerita semenarik dan semengesankan mungkin untuk pembaca.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">3. Cerpen Anekdot<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamu masih ingat dengan materi <strong><a href=\"https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/mengenal-contoh-teks-anekdot\">teks anekdot<\/a><\/strong>? Nah, cerpen anekdot adalah<strong> cerpen yang isinya berupa cerita komedi, lucu, dan menggelikan<\/strong>. Tidak ada batasan kata untuk jenis cerpen ini. Namun, umumnya, cerpen anekdot hanya terdiri dari 1 sampai 3 paragraf saja.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">4. Cerpen Fabel<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kamu pasti tahu kan kalau cerita fabel akan <strong>menggunakan hewan sebagai tokohnya<\/strong>. Hal ini berlaku juga untuk cerpen fabel. Hewan-hewan yang dijadikan tokoh dalam cerpen fabel bisa berupa hewan umum yang kita ketahui, maupun hewan mitologi, seperti pegasus atau centanur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-size: 14pt;\">5. Cerpen Panjang<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen panjang adalah <strong>cerpen yang terdiri dari 5.000 sampai 10.000 kata<\/strong>. Jenis cerpen ini biasanya akan menyampaikan plot cerita yang jauh lebih panjang dengan alur yang santai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Kaidah Kebahasaan Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cerpen banyak menggunakan verba, konjungsi, kalimat tidak langsung, kalimat langsung, dan kata lampau. Cerpen memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Mengandung kalimat bermakna lampau, seperti\u00a0<em>pada suatu senja, beberapa tahun lalu, beberapa tahun silam, <\/em>dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Menyatakan urutan waktu dengan konjungsi kronologis, seperti\u00a0<em>sejak saat itu, setelah itu, mula-mula, kemudian, <\/em><em>sebelum, lalu,\u00a0<\/em>dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Menggunakan kata kerja (verba) yang mengandung tindakan, seperti\u00a0<em>memotong, memotret, memakai, memasak, <\/em>serta kata kerja yang berhubungan dengan perasaan, seperti\u00a0<em>merindukan<\/em>,<em> mengasihi<\/em>, atau\u00a0<em>menyakiti<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4. Menggunakan kalimat tak langsung seperti\u00a0<em>menanyakan, mengungkapkan, mengatakan bahwa,\u00a0<\/em>serta kalimat langsung berupa percakapan antar tokoh dengan tanda kutip.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Contoh Cerpen Singkat<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oke, di sini kamu bisa <span style=\"font-weight: normal;\">membaca contoh cerpen (cerita pendek) terlebih dahulu, kemudian kita analisis bersama berdasarkan strukturnya<\/span>. Baca baik-baik, dan nikmati alur ceritanya, ya!<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Tikus dan Manusia<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>(Karangan Jakob Sumardjo)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini. Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun. Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama kali kami menyadari kehadiran penghuni rumah yang tak diundang, dan tak kami ingini itu, ketika saya tengah menonton film. Tiba-tiba kaki saya diterjang benda dingin yang meluncur ke arah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di balik rak buku. Jantung saya nyaris copot, darah naik ke kepala akibat terkejut, dan otomatis kedua kaki saya angkat ke atas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baru kemudian muncul kemarahan dan dendam saya. Saya mencari semacam tongkat di dapur, dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya balik memegangnya dan menuju ke arah balik rak buku.Tangan saya amat kebelet memukul habis itu tikus. Namun, tak saya lihat wujud benda apa pun di sana. Mungkin begejil item telah masuk rak bagian bawah di mana terdapat lubang untuk memasukkan kabel-kabel pada televisi. Untuk memeriksanya, saya harus mematikan televisi dulu. Saya takut kalau tikus keparat itu menyerang saya tiba-tiba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Imigran gelap rumah itu, saya biarkan selamat dahulu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya tidak pernah menceritakan keberadaan tikus itu kepada istri saya yang pembenci tikus, sampai pada suatu hari istri saya yang justru memberitahukan kepada saya adanya tikus tersebut. Berita itu begitu pentingnya melebihi kegawatan masuknya teroris di kampung kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPak, rumah kita kemasukan tikus lagi! Besar sekali! Item!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDi mana Mamah lihat?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDi dapur, lari dari rak piring menuju belakang kulkas!\u201d Istri saya cemas luar biasa, menahan napas, sambil mengacung-acungkan pisau dapur ke arah kulkas di dapur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSudah satu tahun enggak ada tikus. Rumah sudah bersih. Mengapa tikus masuk rumah kita? Tetangga jauh. Dari mana tikus itu?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cItu tikus kebun, Mah,\u201d jawab saya santai sambil mengembalikan buku ke rak buku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan santai-santai saja Pah, cepat lihat kolong kulkas!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wah, situasi semakin gawat. Saya memenuhi perintah istri saya dengan menyalakan senter ke bagian kolong kulkas. Tidak ada apa pun. Tikus keparat! Ke mana dia menghilang?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejak itu istri saya amat ketat menjaga kebersihan. Semua piring di rak dibungkus kain, juga tempat sendok. Tudung saji diberati dengan ulekan agar tikus tidak bisa menerobos masuk untuk menggasak makanan sisa. Gelas bekas saya minum malam hari harus ditutup rapat. Tempat sampah ditutupi pengki penadah sampah sambil diberati batu. Strategi kami adalah semua tempat makanan ditutup rapat-rapat sehingga tikus tak akan bisa menerobos.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istri saya memesan dibelikan lem tikus paling andal. Selembar kertas minyak tebal dilumuri lem tikus oleh istri saya dan di tengah-tengah lumuran lem itu ditaruh ampela ayam bagian makan malam saya. Jebakan lem tikus ditaruh di kaki kulkas. Pada malam itu, ketika istri saya tengah asyik menonton sinetron, istri saya tiba-tiba berteriak memanggil saya yang sedang mengulangi membaca di kamar kerja, bahwa si tikus terperangkap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya segera menutup buku dan lari ke dapur menyusul istri. Benar, seekor tikus hitam sedang meronta-ronta melepaskan diri dari kertas yang berlem itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMana pukul besi?!\u201d saya panik mencari pukul besi yang entah disimpan di mana di dapur itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cJangan dipukul Pah!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLalu bagaimana?\u201d Saya menjawab mendongkol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSelimuti dengan kertas koran. Bungkus rapat-rapat. Digulung supaya seluruh lem lengket ke badannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLalu diapakan?\u201d Saya semakin dongkol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBuang di tempat sampah!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAah, mana pukul besi?\u201dKedongkolan memuncak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNanti darahnya ke mana-mana! Bungkus saja rapat-rapat!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya mengalah. Ketika tikus itu akan saya tutupi kertas koran, matanya kuyu penuh ketakutan memandang saya. Ah, persetan! Saya menekan rasa belas kasihan saya. Tikus saya bungkus rapat-rapat, lalu saya buang di tong sampah di depan rumah, sambil tak lupa memenuhi perintah istri saya agar penutupnya diberati batu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siang harinya sepulang dari mengajar, istri saya terbata-bata memberi tahu saya bahwa tikus itu lepas ketika Mang Maman tukang sampah mau menuangkan sampah ke gerobaknya. Cerita Mang Maman, ada tikus meloncat dari gerobak sampahnya dan lari ke kebun sebelah dengan terbungkus kertas coklat. Cerita lepasnya tikus ini beberapa hari kemudian diperkuat oleh Bi Nyai, pembantu kami, bahwa dia melihat tikus hitam yang belang-belang kulitnya. Geram juga saya, dan diam-diam saya membeli dua jebakan tikus. Ketika mau saya pasang malam harinya, istri saya keberatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDarahnya ke mana-mana,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, gampang, urusan saya. Kalau kena lantai, saya akan pel pakai karbol,\u201d jawabku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istri saya mengalah, dan rupanya merasa punya andil bersalah juga. Coba kalau tikus itu dulu kupukul kepalanya, tentu beres.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada waktu subuh istri membangunkan saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTikusnya kena, Pah!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang benar, seekor tikus hitam terjepit jebakan persis pada lehernya. Darah tak banyak keluar. Ketika saya amati dari dekat, ternyata bukan tikus yang kulitnya sudah belang-gundul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni bukan tikus yang lepas itu, Mah!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMasa?\u201dIa mendekat mengamati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau begitu ada tikus lain.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMungkin ini istrinya,\u201d celetekku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika mau saya lepas dari jebakan, istri saya melarangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBuang saja ke tempat sampah dengan jebakannya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami.Tikus belang itu masih hidup. Dendam kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang lagi lem tikus dengan bergantiganti umpan, seperti sate ayam, sate kambing, ikan jambal kegemaran saya, sosis, namun tak pernah berhasil menangkap si belang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bibi mengusulkan agar dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli sepotong ayam bakar di restoran padang yang paling ramai dikunjungi orang. Sepotong kecil paha ayam itu dipasang istri saya di tengah lumuran lem Fox, sisanya saya pakai lauk makan malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gagasan Bi Nyai ternyata ampuh. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton tebal yang dilumuri lem.Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya sudah tidak berbulu. Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMah, cepat ambil pukul besinya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus juga dibungkus koran. Darahnya bisa enggak ke mana-mana!\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cCepat sana. Cari koran!\u201d bentakku jengkel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKenapa sih marah-marah saja?\u201d sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi nescafe, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bunyi bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHarus kita temukan sarangnya! Bayi-bayi tikus itu kelaparan ditinggal kedua orangtuanya. Kalau mati bagaimana? Kalau mereka hidup, rumah kita menjadi rumah tikus!\u201d kata istri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu kami melakukan pencarian besar-besaran. Bagian-bagian tersembunyi di rumah kami obrak-abrik, namun bayi-bayi tikus tidak ketemu. Bayi-bayi itu juga tidak kedengaran tangisnya lagi. \u201cMungkin ada di para-para. Tapi bagaimana naiknya?\u201d kata saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNunggu Mang Maman kalau ambil sampah siang,\u201d kata istri. Ketika Mang Maman mau mengambil sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya untuk naik ke para-para mencari bayi-bayi tikus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDi sebelah mana, Bu?\u201d tanya Mang Maman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTadi hanya terdengar di dapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,\u201d sahut istri saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekitar setengah jam kemudian Mang Mamang berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni Bu ada lima. Satu bayi telah mati, yang lain sudah lemas. Lihat, napas mereka sudah tersengal-sengal.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBunuh dan buang ke tempat sampah, Mang\u201d kata istri saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAh, jangan Bu, mau saya bawa pulang.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMau memelihara tikus?\u201d tanya istri saya heran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAh ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,\u201d jawab Mang Maman sambil meringis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cObat kuat? Bagaimana memakannya?\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYa ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia. Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/contoh-cerpen-singkat-dan-strukturnya\" rel=\"noopener\">Kumpulan Contoh Cerpen Singkat &amp; Menarik beserta Strukturnya<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Cara Menganalisis Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana menurutmu cerita tadi? Apakah menarik? Setelah kamu membacanya, sekarang kita mulai menganalisis contoh cerpen tersebut, yuk! Caranya adalah dengan <span style=\"font-weight: bold;\">memperhatikan struktur<\/span> atau bagian-bagian dari cerpen tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, struktur cerpen sendiri terdiri dari <span style=\"font-weight: bold;\">Abstrak, Orientasi, Komplikasi (Puncak Konflik), Evaluasi, Resolusi, <\/span><span style=\"font-weight: normal;\">dan <\/span><span style=\"font-weight: bold;\">Koda<\/span>. Kita bahas satu per satu, ya!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">a. Abstrak<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: normal;\">Abstrak merupakan bagian cerita yang <span style=\"font-weight: bold;\">menggambarkan keseluruhan isi cerita<\/span>. Kalau keberadaan abstrak dalam cerpen, sebenarnya bersifat opsional, mungkin ada yang menggunakannya mungkin juga tidak. Apalagi, jika kisah dalam cerpen cenderung langsung pada peristiwa-peristiwa penting, tidak bertele-tele, dan langsung terpusat pada kon\ufb02ik utamanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">b. Orientasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: normal;\">Orientasi adalah <span style=\"font-weight: bold;\">pengenalan cerita<\/span>. Pada orientasi ini, biasanya pengarang ingin memulainya dengan menggambarkan penokohan ataupun bibit-bibit masalah yang dialaminya. Contoh orientasi cerpen terdapat pada kutipan berikut ini:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kutipan:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini. Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun.Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kutipan tersebut <span style=\"font-weight: bold;\">mengenalkan masalah yang dialami tokoh<\/span>, yakni dengan menggambarkan banyaknya tikus di dalam rumah mereka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">c. Komplikasi (Puncak Kon\ufb02ik)<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Komplikasi atau puncak konflik adalah bagian cerpen yang <span style=\"font-weight: bold;\">menceritakan puncak masalah yang dialami tokoh utama<\/span>.<\/span> Masalah itu tentu saja tidak dikehendaki oleh sang tokoh. Bagian ini pula yang paling menegangkan dan memunculkan rasa penasaran pembaca tentang cara sang tokoh di dalam menyelesaikan masalahnya bisa terjawab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam bagian ini, sang tokoh menghadapi dan menyelesaikan masalah itu, kemudian timbul konsekuensi atau akibat-akibat tertentu yang meredakan masalah sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kutipan:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cMah, cepat ambil pukul besinya.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cTunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus juga dibungkus koran. Darahnya bisa enggak ke mana-mana!\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas lagi.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cCepat sana. Cari koran!\u201d bentakku jengkel.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKenapa sih marah-marah saja?\u201d sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kutipan tersebut merupakan komplikasi karena <span style=\"font-weight: bold;\">pada bagian itulah sang tokoh utama menyelesaikan permasalahannya<\/span>, yakni dengan melakukan gerakan tangkap tikus bersama-sama istrinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada bagian itu pula, timbul ketegangan puncak antartokoh, termasuk implikasinya pada pembaca yang turut terlibat emosi dan rasa penasarannya. Kemudian, hal tersebut terjawab, yakni dengan terkalahkannya tikus-tikus pembawa masalah mereka itu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">d. Evaluasi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Evaluasi adalah<\/span> <span style=\"font-weight: normal;\">bagian yang<\/span><strong> menyatakan komentar pengarang atas peristiwa puncak yang telah diceritakannya<\/strong><span style=\"font-weight: normal;\">.<\/span> Komentar yang dimaksud dapat dinyatakan langsung oleh pengarang atau diwakili oleh tokoh tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada bagian ini, alur ataupun kon\ufb02ik cerita agak mengendur, tetapi pembaca tetap menunggu implikasi ataupun kon\ufb02ik selanjutnya, sebagai akhir dari ceritanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kutipan:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bunyi bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggalan cerita di atas <span style=\"font-weight: bold;\">merupakan akibat atau implikasi dari peristiwa puncak<\/span>. Sang istri tokoh utama tidak tegang lagi dengan ulah-ulah tikus itu, kedamaian di rumahnya pun mulai mereka rasakan. Walaupun itu bukan yang terakhir karena masih ada masalah lain yang tersisa, yakni yang disebut dengan perang Baratayuda, pencarian habis-habisan terhadap sisa-sisa dan sarang-sarang tikus.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">e. Resolusi<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Resolusi merupakan<\/span><strong> tahap penyelesaian akhir dari seluruh rangkaian cerita<\/strong><span style=\"font-weight: normal;\">.<\/span> Bedanya dengan komplikasi, pada bagian ini ketegangan sudah lebih mereda. Dapat dikatakan pada bagian ini hanya terdapat masalah-masalah kecil yang tersisa yang perlu mendapat penyelesaian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kutipan:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cBunuh dan buang ke tempat sampah, Mang\u201d kata istri saya.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cAh, jangan Bu, mau saya bawa pulang.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cMau memelihara tikus?\u201d tanya istri saya heran.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cAh ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,\u201d jawab Mang Maman sambil meringis.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cObat kuat? Bagaimana memakannya?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cYa ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kutipan tersebut menceritakan <span style=\"font-weight: bold;\">penyelesaian masalah, sebagai akhir dari kon\ufb02ik utama<\/span>, tidak lagi ada ketegangan di dalamnya. Semua masalah pun dianggap tuntas dengan dimasukkannya anak-anak tikus ke dalam kantong celana Mang Maman dan sebagiannya lagi dibuang ke gerobak sampah dengan entengnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3><span style=\"font-size: 14pt;\">f. Koda<\/span><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: normal;\">Koda merupakan<\/span><strong> komentar akhir terhadap keseluruhan isi cerita<\/strong><span style=\"font-weight: normal;\">.<\/span> Bagian ini dapat juga diisi dengan simpulan tentang hal-hal yang dialami tokoh utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Kutipan:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia.Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam penggalan cerita tersebut, <span style=\"font-weight: bold;\">pengarangnya mengomentari bahwa perang manusia melawan tikus tidak akan pernah berakhir<\/span>. Tikus-tikus tetap akan menguntit manusia selama makanannya itu tetap ada, tidak terkecuali pada istrinya yang pada saat-saat tertentu akan merasa terancam lagi oleh penampakan tikus-tikus baru lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagian-bagian cerita pendek itu merupakan bentuk struktur umum. Artinya sangat mungkin keberadaan cerpen-cerpen lainnya tidak memiliki struktur seperti itu. Hal ini terkait dengan kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh setiap pengarang dalam berkarya. Nah, kebebasan itu biasa disebut sebagai <span style=\"font-weight: bold;\"><em>Licentia Poetica<\/em><\/span>.<\/p>\n<p>Itu semua adalah gambaran dalam menganalisis sebuah cerpen. Ada banyak struktur dalam cerpen yang kalau kita urutkan, bisa kita pahami cara pengarang dalam membuat sebuah tulisan cerita yang menarik dan imajinatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/contoh-teks-eksplanasi-beserta-strukturnya\" rel=\"noopener\">Contoh Teks Eksplanasi berdasarkan Strukturnya<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\">Tips Membuat Cerpen<\/span><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Oke, sekarang kamu sudah tahu nih tentang pengertian cerpen, ciri-ciri, fungsi, unsur, struktur, contoh, dan cara menganalisisnya. Lalu, bagaimana cara membuat cerpen, ya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Cara membuat cerpen juga ada tekniknya<\/strong>, lho! Kamu bisa <span style=\"font-weight: bold;\">berkonsultasi dengan guru<\/span> Bahasa Indonesiamu di sekolah, terus kalau di rumah, bisa sambil buka aplikasi Ruangguru dan nonton video belajarnya di <strong>ruangbelajar<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya, nggak banyak kok yang harus dipelajari dalam membuat sebuah cerpen. Kamu cukup <span style=\"font-weight: bold;\">memahami fungsi, unsur intrinsik,\u00a0dan unsur ekstrinsik <\/span><span style=\"font-weight: normal;\"><span style=\"font-weight: bold;\">cerpen<\/span>.<\/span> Lalu, kamu bisa <span style=\"font-weight: bold;\">membuat kerangka cerita dan mulai menulisnya<\/span>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah jadi, kamu bisa <span style=\"font-weight: bold;\">konsultasikan lagi ke gurumu<\/span> di sekolah. Kalau menurut beliau oke, tinggal diterbitin deh, di <span style=\"font-style: italic;\">blog<\/span> pribadi. Atau bisa juga dikirim ke media-media.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, kalau kamu sudah paham tentang dasar-dasar cerpen, kamu juga perlu <span style=\"font-weight: bold;\">membaca banyak referensi cerita<\/span> untuk menambah kosakatamu. Untuk membuat cerpen, kamu juga harus <span style=\"font-weight: bold;\">memahami isi dalam sebuah cerita<\/span> yang dibuat oleh orang lain.<\/p>\n<p>Kamu bisa cek beberapa rekomendasi cerpen yang terhimpun dalam kumpulan cerpen berikut ini ya!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; font-weight: bold;\">Baca Juga: <a href=\"\/blog\/memahami-jenis-jenis-buku-nonfiksi\" rel=\"noopener\">Yuk, Ketahui Jenis-Jenis Buku Nonfiksi!<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt;\"><strong>Rekomendasi Cerita Pendek\u00a0<\/strong><\/span><\/h2>\n<p>1. Murjangkung &#8211; A.S. Laksana<br \/>\n2. Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon &#8211; Faisal Oddang<br \/>\n3. Sepotong Senja untuk Pacarku &#8211; Seno Gumira Ajidarma<br \/>\n4. Sihir Perempuan &#8211; Intan Paramaditha<br \/>\n5. Ratu Sekop &#8211; Iksaka Banu<br \/>\n6. Setangkai Melati di Sayap Jibril &#8211; Danarto<br \/>\n7. Corat-Coret di Toilet &#8211; Eka Kurniawan<br \/>\n8. Foto Ibu &#8211; Ratih Kumala<br \/>\n9. Sesaat Sebelum Berangkat &#8211; Puthut EA<br \/>\n10. Kartu Pos dari Surga &#8211; Agus Noor<br \/>\n11. Bibir dalam Pispot &#8211; Hamsad Rangkuti<br \/>\n12. Lidah &#8211; Ni Komang Ariani<br \/>\n13. Kasur Tanah &#8211; Muna Masyari<br \/>\n14. Tanah Air &#8211; Martin Aleida<br \/>\n15. Smokol &#8211; Nukila Amal<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">&#8212;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagaimana? Sekarang kamu sudah paham kan apa itu cerpen dan bagaimana cara menganalisis contoh cerpen berdasarkan strukturnya? Sebenarnya masih banyak lho, teknik-teknik yang bisa digunakan dalam menganalisis sebuah cerpen. Kalau kamu ingin jago membuat cerpen yang menarik dan disenangi banyak pembaca, mulailah memahaminya dan mulailah menulis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>So<\/em>, untuk mendapatkan banyak pengetahuan tentang cerpen, selain dari guru di sekolahmu, kamu juga bisa menonton video belajar di <a style=\"font-weight: bold;\" href=\"https:\/\/ruangguru.onelink.me\/blPk\/eaff0eb9\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ruangbelajar<\/a>. Setelah itu, kamu bisa konsultasikan deh, ke gurumu! Jadi, selamat belajar dan menulis cerpen!<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/ruangguru.onelink.me\/blPk\/eaff0eb9\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium\" src=\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/eb8c33ff-4bfe-433c-9195-85f355d5db88.jpeg\" alt=\"CTA Ruangbelajar\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Referensi:<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Suherli dkk. 2017. <em>Bahasa Indonesia untuk SMA\/MA Kelas 11<\/em>. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa itu cerpen? Seperti apa contoh cerpen dan bagaimana cara menganalisisnya? Yuk, jawab rasa penasaranmu tentang cerpen dengan membaca artikel Bahasa Indonesia kelas 11 ini! &#8212; &nbsp; Ketika memasuki kelas 11 SMA semester 1, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kamu akan bertemu dengan topik-topik pelajaran yang sangat menyenangkan. Mengapa? Karena kamu akan banyak mengenal dan memahami [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":1027,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_knawatfibu_url":["https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg"],"_edit_lock":["1739165128:1"],"_edit_last":["1"],"_wp_old_date":["2022-11-15","2023-11-06","2024-08-09"],"_aioseo_title":["Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &amp; Contoh"],"_aioseo_description":["Apa itu cerpen? Seperti apa ciri, fungsi, unsur, jenis, struktur, contoh, dan cara menganalisis cerpen? Yuk, cari jawabannya secara lengkap lewat artikel ini!"],"_aioseo_keywords":[""],"_aioseo_og_title":[null],"_aioseo_og_description":[null],"_aioseo_og_article_section":[""],"_aioseo_og_article_tags":[""],"_aioseo_twitter_title":[null],"_aioseo_twitter_description":[null],"_knawatfibu_alt":["Cerpen Cerita Pendek"]},"categories":[477,485],"tags":[100,31,10,37],"class_list":["post-1027","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahasa-indonesia","category-bahasa-indonesia-sma-kelas-11","tag-bahasa-indonesia-xi","tag-kelas-11","tag-konsep-pelajaran","tag-sma"],"aioseo_notices":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &amp; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &amp; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Apa itu cerpen? Seperti apa contoh cerpen dan bagaimana cara menganalisisnya? Yuk, jawab rasa penasaranmu tentang cerpen dengan membaca artikel Bahasa Indonesia kelas 11 ini! &#8212; &nbsp; Ketika memasuki kelas 11 SMA semester 1, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kamu akan bertemu dengan topik-topik pelajaran yang sangat menyenangkan. Mengapa? Karena kamu akan banyak mengenal dan memahami [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-09-09T03:00:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-10T05:19:46+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fahri Abdillah\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ruangguru\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fahri Abdillah\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"21 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\"},\"author\":{\"name\":\"Fahri Abdillah\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/b8c1d4b9aaf040b66ebec1fc71ecbbc9\"},\"headline\":\"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &#038; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11\",\"datePublished\":\"2024-09-09T03:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-10T05:19:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\"},\"wordCount\":4161,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg\",\"keywords\":[\"Bahasa Indonesia XI\",\"Kelas 11\",\"Konsep Pelajaran\",\"SMA\"],\"articleSection\":[\"Bahasa Indonesia\",\"Bahasa Indonesia SMA Kelas 11\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\",\"name\":\"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur & Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg\",\"datePublished\":\"2024-09-09T03:00:00+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-10T05:19:46+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &#038; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/\",\"name\":\"Ruangguru Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization\",\"name\":\"PT Ruang Raya Indonesia\",\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png\",\"width\":173,\"height\":96,\"caption\":\"PT Ruang Raya Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/\",\"https:\/\/x.com\/ruangguru\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/b8c1d4b9aaf040b66ebec1fc71ecbbc9\",\"name\":\"Fahri Abdillah\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fahri Abdillah\"},\"url\":\"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/author\/fahri-abdillah\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur & Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur & Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","og_description":"Apa itu cerpen? Seperti apa contoh cerpen dan bagaimana cara menganalisisnya? Yuk, jawab rasa penasaranmu tentang cerpen dengan membaca artikel Bahasa Indonesia kelas 11 ini! &#8212; &nbsp; Ketika memasuki kelas 11 SMA semester 1, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kamu akan bertemu dengan topik-topik pelajaran yang sangat menyenangkan. Mengapa? Karena kamu akan banyak mengenal dan memahami [&hellip;]","og_url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen","og_site_name":"Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","article_published_time":"2024-09-09T03:00:00+00:00","article_modified_time":"2025-02-10T05:19:46+00:00","author":"Fahri Abdillah","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ruangguru","twitter_site":"@ruangguru","twitter_misc":{"Written by":"Fahri Abdillah","Est. reading time":"21 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen"},"author":{"name":"Fahri Abdillah","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/b8c1d4b9aaf040b66ebec1fc71ecbbc9"},"headline":"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &#038; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11","datePublished":"2024-09-09T03:00:00+00:00","dateModified":"2025-02-10T05:19:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen"},"wordCount":4161,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg","keywords":["Bahasa Indonesia XI","Kelas 11","Konsep Pelajaran","SMA"],"articleSection":["Bahasa Indonesia","Bahasa Indonesia SMA Kelas 11"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen","name":"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur & Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11 - Belajar Gratis di Rumah Kapan Pun! | Blog Ruangguru","isPartOf":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg","datePublished":"2024-09-09T03:00:00+00:00","dateModified":"2025-02-10T05:19:46+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#primaryimage","url":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg","contentUrl":"https:\/\/cdn-web.ruangguru.com\/landing-pages\/assets\/hs\/Apa%20itu%20Cerpen.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/apa-itu-cerpen#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cerpen: Pengertian, Ciri, Unsur, Jenis, Struktur &#038; Contoh | Bahasa Indonesia Kelas 11"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#website","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/","name":"Ruangguru Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#organization","name":"PT Ruang Raya Indonesia","url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png","contentUrl":"https:\/\/lp.sirogu.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/logo-ruangguru.png","width":173,"height":96,"caption":"PT Ruang Raya Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/ruanggurucom\/","https:\/\/x.com\/ruangguru"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/b8c1d4b9aaf040b66ebec1fc71ecbbc9","name":"Fahri Abdillah","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fahri Abdillah"},"url":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/author\/fahri-abdillah"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1027"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22037,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027\/revisions\/22037"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1027"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1027"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/staging-blog.sirogu.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1027"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}